Jumat, 12 Juli 2013

Desain Kurikulum Sekolah Katolik

Pengantar


Workshop MNPK diselenggarakan Tanggal 24 -26 April 2013 di Wisma Samadi Klender Jakarta Timur dengan thema : Desain Kurikulum Sekolah Katolik merujuk Kurikulum 2013 diikuti oleh pengurus MNPK dan 30 MPK Keuskupan, pengurus Yayasan, Kepala sekolah dan guru di bidang Kurikulum yang berjumlah 156 orang.

Desain kurikulum Sekolah Katolik adalah rancangan pokok-pokok keunggulan Sekolah Katolik yang menjadi pegangan dalam pelaksanaan kurikulum. Sekolah-sekolah Katolik berpegang pada tiga pilar: (a) Mencerdaskan kehidupan bangsa, b) Ajaran Gereja, c)Spiritualitas pendiri.

Setelah mendengarkan nara sumber : Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Ketua Komisi Pendidikan KWI , Ketua KWI serta para narasumber dan dinamika diskusi selama workshop berlangsung maka hasil/kesimpulan akhir:



1. Kurikulum 2013 dan Permasalahannya

Menurut Menteri M. Nuh, Kurikulum 2013 dirancang untuk menjawab tantangan yang dihadapi bangsa kita saat ini, yakni: (a) kemiskinan; (b) ketidaktahuan; dan (c) keterbelakangan peradaban.

Kurikulum 2013 dirancang untuk menjawab ketiga tantangan di atas sehingga kita bisa mempersiapkan generasi muda yang akan datang menjadi generasi yang sejajar dengan bangsa-bangsa besar (The Great Indonesia).

Oleh karena itu, kurikulum 2013 ini sudah tidak perlu dipersoalkan lagi, karena ini merupakan kurikulum terbaik di dunia, selama sejarah perubahan kurikulum di Indonesia.

2. Tanggapan

a. Tanggapan Diplomatis

Ketua MNPK, Rm Karolus Jande, Pr melihat bahwa kurikulum 2013 masih perlu dikritisi karena masih ada “lobang-lobang” atau “kelemahan” yang perlu disempurnakan.

Akan tetapi, jika Kurikulum 2013 telah ditetapkan melalui Undang Undang, maka Sekolah Katolik, sebagai warga negara yang baik akan siap melaksanakannya, dengan memperhatikan ciri khas sekolah-sekolah Katolik.

b. Tanggapan Kritis

S. Belen memberi tanggapan bahwa Kurkulum 2013 adalah kurikulum yang terpadat dan terburuk sepanjang perubahan kurikulum pendidikan di Indonesia. Kurikulum 2013 dikerjakan tergesa-gesa dan tidak memperhatikan masukan-masukan yang diberikan oleh para ahli.

Melihat dari beban jam belajar, hampir tidak ada waktu untuk pelajaran muatan lokal, karena jam berlajar siswa sudah sangat penuh.

c. Tanggapan Konferensi Wali Gereja Indonesia

Menulis surat kepada Presiden dengan tembusan kepada DPR dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, minta menunda pelaksanaan Kurikulum 2013 karena alasan: (a) substansi: menyangkut filsafat pendidikan yang dipakai sebagai dasar penyusunan kurikulum 2013 tidak konsisten karena menggunakan filsafat eklektisisme, yakni memilih berbagai aliran filosofis yang dinilai sesuai. Akibatnya kurikulum 2013 menjadi kurang konsistendan hasilnya kurang baik. Analoginya “kopi itu enak” dan “tembakau itu nikmat” lalu bila dicampurkan, rasanya menjadi “aneh” dan tak pernah terbayangkan. (b) alasan prosedur. Kurikulum 2013 ini dikerjakan secara tergesa-gesa, seperti dipaksakan. Kurikulum 2013 ini tidak ada dalam renstra Diknas 2009-2014. Penulisan buku kurikulum 2013 terburu-buru dan pelatihan guru hanya dalam waktu singkat.

KWI tidak menolak pembaharuan kurikulum, namun sebagai tanggungjawab moral, melihat alasan substansi dan prosedural di atas, maka KWI telah menulis surat kepada Presiden dengan tembusan kepada DPR dan Mendikbud agar menunda pelaksanaan Kurikulum 2013 sampai kurikulum ini disempurnakan dari kekurangan-kekurangan substansinya.

3. Desain Kurikulum Sekolah Katolik

Hal-hal dasariah yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan kurikulum di sekolah-sekolah Katolik, yang menjadi keunggulan:

a Pendidikan Nilai sesuai dengan spiritualitas pendiri dan Ajaran Gereja.Sekolah-Sekolah Katolik sebagai “komunitas layanan pendidikan” dalam melaksanakan kurikulum memberi “pengalaman nilai” bagi anak-didik dengan menciptakan komunitas pendidikan di mana setiap orang di dalamnya menghidupi nilai-nilai kasih. Pendidikan nilai ini dilaksanakan melalui keteladanan guru (yang dapat diobservasi oleh anak didik), mendorong peserta-didik untuk menghidupi nilai itu dalam hidupnya sehari-hari, sehingga terbentuk kebiasaan, sifat-sifat dan karakter yang baik sesuai dengan semangat pendiri dan ajaran Gereja.

b Paradigma” Student Centered Learning” yakni siswa belajar aktif.

Dalam proses pembelajaran, setiap guru menerapkan metode “belajar aktif” di mana peserta-didik diajak untuk mengalami, mengobservasi, berefleksi dan menemukan sendiri konsep-konsep pengetahuan yang ingin dipelajari. Kita perlu meningkatkan “kompetensi guru-guru kita” di Sekolah Katolik agar memperoleh padadigma baru yakni Paradigma “Student Centered learning.”Proses pembelajaran di sekolah katolik diwarnai oleh pengalaman nilai, penghargaan terhadap pribadi lain, yang mendorong peserta-didik untuk berani bereksplorasi, kreatif, berpikir kritis dan dewasa.

c Pendidikan Multi Kultural

Sekolah-sekolah Katolik perlu memperhatikan pendidikan multikultural, guna mempersiapkan generasi muda masa depan yang mampu menyesuaikan diri dengan berbagai golongan, agama, suku, budaya dalam negara NKRI.Setiap budaya (culture) di dalamnya “ada nilai” yang menjadi akar identitas setiap orang yang hidup di dalamnya. Sekolah Katolik perlu membantu anak-didik untuk menggali identitasnya dan mengakui identitas orang lain. Jadi menghargai pribadi (dari budaya lain) sebagai “yang punya hak yang sama” - seperti dirinya sendiri. Dalam Komunitas Sekolah Katolik: peserta-didik berlatih hidup bersama dalam keberagaman (budaya, suku, agama, warna kulit, keyakinan).

d Bahasa Internasional

Sesuai tuntutan zaman, peserta-didik perlu dipersiapkan untuk memasuki dunia global. Komunitas sekolah katolik menjadi tempat bagi peserta-didik untuk berlatih dan menguasai alat-alat komunikasi internasional, seperti Bahasa Inggris, Bahasa Mandarin, Bahasa Jepang dan bahasa-bahasa internasional lainnya.

e Information ,Communication and Technology (ICT)

Salah satu ciri masyarakat global adalah penerapan teknologi informasi dalam semua aspek kehidupan. Berkaitan dengan kemajuan ICT, peserta-didik perlu dibiasakan memasuki budaya ICT ini sejak dini dalam komunitas sekolah Katolik. Untuk itu, perlu para guru didorong dan dimampukan untuk menggunakan ICT ini dalam proses pembelajaran setiap hari.

f Kewirausahaan (entrepreunership): mengintegrasikan unit produksi di sekolah katolik sebagai wadah praktik kewirausahaan siswa yang dikaitkan dengan kompetensi dasar mata pelajaran yang relevan untuk membangkitkan jiwa kewirausahaan.

4. Kesepakatan

Peserta menyadari bahwa perlu gerakan bersama guna mendesain kurikulum sekolah-sekolah Katolik sesuai dengan pokok-pokok di atas, maka kesepakatan kita adalah sebagai berikut:

Pokok pokok keunggulan yang ditemukan dalam workshop ini perlu disertai dengan surat keputusan dari MNPK

Mengorganisir pelatihan master trainer di setiap MPK, yang secara terus-menerus melakukan training guru-guru di wilayah MPK-nya. Dengan demikian setiap MPK memiliki pusat-pusat training guru dengan trainer-trainer yang profesional.

MNPK mendorong MPK MPK agar yayasan yayasan meningkatkan kemampuan kepala sekolah dan guru guru sebagai ujung tombak terlaksananya kurikulum.

MNPK mendukung surat dari KWI dan PGI yang meminta pemerintah cq Menteri Pendidikan dan Kebudayaan serta Komisi X Dewan Perwakilan Rakyat untuk menunda pemberlakuan kurikulum 2013.

Sumber: www.mnpk.org